Electricity Lightning

Sabtu, 19 November 2016

Indonesia Emas 2045. MAKE IT or BREAK IT?

Pada paradigma Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada kemerdekaan NKRI yang ke-100 pada tahun 2045 telah merencanakan suatu program menyelesaikan masalah krisisnya pendidikan di Indonesia pada generasi mendatang. Generasi Emas 2045 diperkirakan mempunyai peranan penting pada peserta didik yang terutama sedang duduk di jenjang pendidikan SD, SMP, dan SLTA , termasuk generasi yang masih duduk di perguruan tinggi.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2012 menjadi ungkapan syukur seluruh insan pendidikan, pemerintah daerah, organisasi penggerak di dunia pendidikan, dan para pemangku kepentingan. Dengan segala ikhtiar, kepedulian, dan perhatian, mereka telah menumbuhkembangkan dunia pendidikan di tanah air.
Demografi di Indonesia dalam Sumber Daya Manusia (SDM) diperkirakan jumlah penduduk usia produktif pada tahun 2020-2035 berjumlah besar yang mempunyai kualitas pendidik yang terlatih dengan asumsi pendidikan yang lebih tinggi. Pada hal ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang merencanakan suatu agenda penting untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 bangsa Indonesia khususnya pada bidang pendidikan.
Perkembang dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju di jaman sekarang ini menjadi tantangan tersendiri daya saing di dunia. Oleh karena itu, pendidikan Indonesia juga harus mengikuti perkembangan pesat tersebut. Pemerintah telah mencanangkan kurikulum 2013 untuk diterapkan pada segala jenjang pendidikan.
Karakter pada generasi emas 2045 adalah salah satu peran utama membangun Indonesia semakin maju, besar, jaya dan bermartabat di dunia. Karakter mengutamakan budi pekerti luhur, sikap positif, pola pikir esensial, komitmen normatif, dan kompetensi abilitas. Berdasarkan paparan diatas maka dapat dibahas penerapan kurikulum 2013 dalam pendidikan Indonesia, strategi membangun karakter generasi emas 2045, dan relevansi kurikulum 2013 dalam membangun karakter generasi emas 2045 bangsa Indonesia. Sehingga diharapkan generasi bangsa mempunyai sumber daya manusia yang dapat bersaing dengan negara lain dalam membangun negara ini dengan beberapa karakter yang tidak meninggalkan jati diri Indonesia.
Perencanaan generasi emas 2045 bangsa Indonesia pada peringatan hari pendidikan tahun 2012 ini adalah sebuah optimisme dengan peluncuran program pendidikan yang sudah diluncurkan sebagaimana dijelaskan Kemendikbud. Namun tidak dapat dipungkiri masih adanya hambatan anggaran pendidikan yang cukup besar dan kebijakan budget pada pendidikan. Duski Samad memaparkan kritik kepada pemerintah dalam perhatian terhadap pendidik dan sarana pendidikan yang belum dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Belum pula dalam peningkatan kasus kemerosotan moral dan etika anak didik dan pendidik (kasuistik) juga sudah menampar wajah pendidikan itu sendiri.
Faktor determinan membangun kehidupan lebih baik, termasuk kehidupan bangsa adalah sumber daya manusia (SDM). Haryono (mantan pimpinan KPK) menyatakan bahwa “Indonesia merupakan negara dengan posisi strategis dan penting sejak lama. Energi penting yang kita miliki adalah migas.” Oleh karena itu, dibutuhkan SDM yang mumpuni untuk bisa mengekspor semua potensi alam yang dimiliki Indonseia. SDM Indonesia menjadi modal utama kemajuan dalam kemajuan bangsa, dengan catatan pendidikan bermutu bisa merata di berbagai wilayah Indonesia. Sehingga Kemendikbud mulai mengimplementasikan pendidikan yang integritas dan berkarakter dari semua jenjang pendidikan SD, SMP dan SLTA, maupun pada jenjang pendidikan perguruan tinggi. Haryono juga menyatakan selain lembaga pendidikan, peranan keluarga dan publik/masyarakat juga penting dalam majunya dunia pendidikan.
Bagaimanapun juga tercipta atau tidaknya, berhasil atau tidaknya Generasi Emas ini merupakan tanggung jawab kita bersama, dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pengawasan pendidikan sampai masyarakat, pemuda, pelajar sebagai pelaksana dan target dari program ini untuk ikut andil mensukseskan program ini dan memperbaiki kualitas hidup masing-masing
Bila dilihat dari system pembelajaran di Indonesia ini, dengan menggunakan kurikulum baru, yaitu Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006.
Kurikulum 2013 dikembangkan untuk meningkatkan capaian pendidikan dengan dua strategi utama, yaitu peningkatan efektifitas pembelajaran pada satuan pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektifitas pembelajaran dicapai melalui tiga tahap, yaitu:


  1.       Efektifitas interaksi, akan tercipta dengan adanya harmonisasi iklim akademi dan budaya  sekolah. Efektifitas interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan manajemen dan kepemimpinan pada satuan pendidikan.
  2.       Efektifitas pemahaman, menjadi bagian penting dalam pencapaian efektifitas pembelajaran. Efektifitas tersebut dapat dicapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi, asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan mengkomunikasikan.
  3.       Efektivitas penyerapan, dapat tercipta manakala adanya kesinambungan pembelajaran horizonta dan vertikal.

Penerapan kurikulum 2013 diimplementasikan adanya penambahan jam pelajaran, hal tersebut sebagai akibat dari adanya perubahan proses pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa yang mencari tahu. Selain itu, akan merubah pula proses penialaian yang semula berbasis output menjadi berbasis proses dan output.
Kurikulum 2013 ini rencananya diterapkan mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK. Untuk jenjang sekolah dasar sederajat, akan diamputasi 2 mata pelajaran yakni mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), jadi nantinya untuk SD sederajat hanya ada mata pelajaran atau bidang studi, yakni :

  1. Pendidikan agama
  2. Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan atau PKN 
  3. Bahasa indonesia
  4. Matematika
  5. Seni budaya
  6. Pendidikan jasmani dan kesehatan.


Pengurangan mata pelajaran untuk tingkat atau jenjang SD sederajat ini dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan agar peserta didik atau para siswa tidak terlalu terjejali oleh banyaknya mata pelajaran yang mereka dapatkan di bangku sekolah. Di harapkan dengan pengurangan ini, kecerdasan para siswa akan terasah tanpa disertai beban dengan banyaknya mata pelajaran yang mereka terima di sekolah.
Saat ini yang ramai diperbincangkan di media massa terkait perubahan kurikulum adalah masalah pengurangan mata pelajaran dan penambahan jam belajar, secara mendasar, ada empat elemen perubahan dalam kurikulum 2013, yakni standar kompetensi lulusan, standar isi (kompetensi inti dan kompetensi dasar), standar proses, dan standar penilaian. Penyempurnaan standar kompetensi lulusan memperhatikan pengembangan nilai, pengetahuan, dan keterampilan. Secara terpadu dengan fokus pada pencapaian kompetensi.
Beberapa kekurangan dari kurikulum 2013 meliputi :

  1.       Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013. Pemerintah melihat seolah-olah guru dan siswa mempunyai kapasitas yang sama.
  2.       Tidak adanya keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan. UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil dan sama sekali tidak memperhatikan proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada dikesampingkannya mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN. Padahal, mata pelajaran non-UN juga memberikan kontribusi besar untuk mewujudkan tujuan pendidikan.
  3.       Pemerintah mengintegrasikan mata pelajaran IPA & IPS dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar.
Dalam bahasan kurikulum yang akan dicanangkan tersebut masih menuai banyak perdebatan. Dikalangan praktisi pendidikan masih menimbulkan pro dan kontra. Pihak yang mendukung kurikulum baru menyatakan bahwa kurikulum 2013 nantinya akan memadatkan pelajaran sehingga tidak membebani siswa. Selain itu kurikulum ini akan memfokuskan pada tantangan masa depan bangsa, dan tidak memberatkan guru dalam penyusunan KTSP. Sedangkan pihak yang kontra menyatakan bahwa, kurikulum justru kurang fokus karena menggabungkan mata pelajaran IPA dengan bahasa indonesia di SD. Padahal kedua mata pelajaran memiliki substansi pokok yang berbeda. Akan tetapi hampir semua orang setuju atas alasan di balik perubahan kurikulum. Hal ini dipertegas lagi bahwa kementrian pendidikan dan kebudayaan berupaya kembali pada tujuan mulia pendidikan, tak hanya menberikan siswa dengan pengetahuan, tapi juga membentuk karakter mereka.


Dari pihak kontra memberikan argumen kembali bahwa, memang nantinya mata pelajaran yang akan diajarkan tersebut dibuat lebih simpel. Akan tetapi tingkat pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa akan semakin berkurang akibat berpaduan mata pelajaran tersebut.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 Komentar :

Posting Komentar